Senin, 19 November 2007

Peric and Pac


Di kota Breatagne yang indah, hiduplah seseorang anak laki-laki bernama Peric. Ia seorang penggembala kambing yang sangat menyanyangi kambing-kambingnya. Ia mengajak mereka bercerita tentang apa saja. Kambing-kambing itu pun sangat menyukai Peric.
Pada suatu hari Peric sangat terlambat tiba di padang rumput. Pac, si kambing tertua merasa khawatir.
“Ada apa, Peric?” tanya Pac, “Biasanya kamu tiba pagi-pagi sekali disini!”
“Tadi pagi aku ke sekolah!” jawab Peric riang.
“Sekolah?” tanya Pec. Peric mengeluarkan sesuatu dari tasnya, “Lihat!” katanya pada Pac. “Ini disebut buku. Didalamnya ada banyak kata-kata!”
Pac membuka buku tersebut dengan kukunya, lalu menempelkan telinganya pada halaman yang terbuka.
“Ah, aku tidak mendengar apapun. Benda ini tidak mengucapkan satu patah kata pun!” katanya pada Peric
Peric tersenyum lalu berkata, “Bukan begitu caranya. Kata-kata dalam buku ini tidak akan bersuara. Kita menggunakan mata kita, bukan telinga.”
Pac membesarkan kedua matanya, lalu menatap halaman buku didepannya. Namun tetap saja ia tidak mengerti.
“Oh ya. Sekarang aku sudah bisa membaca, loh!” kata Peric.
“Membaca?” tanya Pac.
“Iya. Membaca artinya, mengerti kata-kata yang tertulis di kertas ini. Kalau kau sudah bisa membaca, kata-kata ini akan menceritakan ribuan cerita padamu.”
“Oooh…” kata Pac terheran-heran, “Kalau begitu aku juga ingin belajar membaca.”
“Baiklah,” kata Peric. “Aku akan mengajarimu!”
Begitulah, setiap pagi Peric pergi ke sekolah. Dan sorenya ia mengajari Pac membaca. Waktu pun berlalu. Pac sudah bisa membaca dengan baik. Ia membaca semua buku yang dibawa Peric dari sekolah.
Suatu hari Pac membuka sebuah buku dengan judul ENSIKLOPEDI. Ia menemukan banyak sekali pengetahuan baru di buku itu. Pac ingin membagi pengetahuan itu pada teman-temanya. Ia lalu membaca keras-keras, “Langit adalah bagian dari atmosfer dan angkasa luar yang dapat terlihat dari bumi.”
Pac melemparkan buku itu ke udara sambil tersenyum, “Mengertikah kalian? Sebenarnya langit tidak terletak di pucuk pepohonan seperti yang selama ini kita sangka. Sebenarnya kita berada di sebuah planet yang berputar mengelilingi….”
“Ooh… diamlah!” seekor kambing memotong pembicaraan Pac, “Sejak bisa membaca, kau selalu mengatakan hal-hal aneh pada kami!”
Begitulah akhir-akhir ini setiap pagi Pac menceritakan kisah baru pada teman-temanya. Dan di malam hari ia dan Peric membaca buku bersama.

Senin, 05 November 2007

Sempurna


Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan selalu memujimu
Di setiap langkahku
Ku kan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan Mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh... Sayangku kau begitu

Sempurna...

Sempurna...